Meskipun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak jadi naik, harga
kebutuhan pokok yang sudah terlanjur naik dengan adanya isu kenaikan BBM dan sulit
kembali turun, demikianlah kondisi yang ada di masyarakat kita saat ini.
Rakyat mengeluhkan tingkat harga-harga yang ogah turun lagi. Ibu-ibu rumah
tangga mengaku deg-degan dan justru merasa susah dan tidak nyaman karena
BBM tidak jadi naik 1 April lalu. ''Hal ini juga dikeluhkan oleh para
pedagang kecil. Karena sekarang harga semua bahan kebutuhan pokok seperti gula,
mentega, cabe, minyak goreng dan lain-lain sudah gila-gilaan. Ini pasti
ulah spekulan. Nanti kalau BBM naik, tentu harga barang-barang akan
semakin naik lagi. Kondisi ini sangat mengacaukan cash flow kami,''tutur dia.
Klo sudah seperti ini siapa yang mau bertanggung jawab…? Alih-alih mo
mensejahterakan masyarakat kecil malah membuat masyarakat makin sengsara.
Sadar akan kondisi saat ini makanya Ibu-ibu rumah tangga dengan tegas menolak
rencana pemerintah menaikkan harga BBM dan menuntut pemerintah melindungi
kehidupan rakyat termasuk perempuan, anak-anak dan lansia agar dapat hidup
secara layak dan bermartabat.
"Kenaikan harga BBM merupakan suatu tindakan yang dapat membuat rakyat
hidup di bawah standar kelayakan, hal ini merupakan bagian dari kegagalan
negara menjamin pemenuhan hak warganya. Jika Sebelum BBM Naik anak-anak mereka
dapat makan tiga kali sehari, dengan naiknya harga BBM maka anak-anak mereka
hanya dapt makan dua kali sehari, Jika sebelum BBM naik anak-anak mereka dapat
memperoleh uang jajan dua ribu rupiah, tapi karena kenaikan BBM anak-anak
mereka tidak dapat lagi memperoleh uang jajan, demikain menurut seorang ibu
rumah tangga di tanjung uban saat menyampaikan orasinya mewakili ibu-ibu rumah
tangga Menolak Kenaikan Harga BBM. Dalam sebuah diskusi 'Mengapa Ibu-ibu Harus
Menolak Kenaikan Harga BBM'.
Menurut mereka, Ibu-ibulah yang merupakan kelompok yang paling merasakan
dampak dari kenaikan harga BBM. Pasalnya, Ibu-ibulah yang lebih banyak mengatur
kebutuhan rumah tangga ditengah harga kebutuhan pokok merangkak naik dan daya
beli yang menurun. "Ibu-ibu, anak dan lansia berisiko menanggung dampak
terberat di dalam keluarga.
Selain itu, kondisi distribusi relasi kuasa sosial yang timpang gender akan
tetap menjadikan Ibu-ibu sebagai pihak yang dihadapkan pada tekanan psikis
akibat kenaikan harga BBM. "Ibu-ibu mendapatkan tekanan psikis paling
berat.
Bagaimana tidak kenaikan harga BBM akan berdampak menurunnya daya beli dan
kualitas hidup, menurunnya kapasitas untuk pemenuhan kebutuhan spesifik seperti
kesehatan reproduksi dan hak anak untuk belajar dan bermain.
Jadi hal itu bisa meningkatkan risiko kekerasan dalam berbagai bentuk
sebagai dampak lanjutan dari peningkatan beban hidup. Oleh karena itu
pemerintah harus melindungi kehidupan rakyat tertmasuk perempuan, anak dan
lansia.
Persoalan kenaikan harga BBM akan memicu meningkatnya persoalan yang lebih
luas bagi persoalan ekonomi maupun sosial politik yang lain.
<Salam Perjuangan>